PADANG PARIAMAN, DNC.co.id – Sebuah gerakan sederhana namun berdampak besar lahir dari Nagari Sintuk Toboh Gadang. Melalui pembudidayaan maggot (larva Black Soldier Fly/BSF), masyarakat setempat mulai mengubah sampah organik menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan.
Kegiatan yang dipusatkan di Rumah BSF KPP Sintoga ini menjadi bukti nyata bahwa solusi persoalan lingkungan bisa dimulai dari nagari dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Bahkan, gerakan ini awalnya dirintis secara sederhana oleh Inyiak Jai dengan alat dan bahan seadanya, namun kini berkembang menjadi pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat.
Perkembangan tersebut mendapat perhatian langsung dari Ketua PKK Kabupaten Padang Pariaman, Ibu Nitha Aziz, yang turun langsung meninjau lokasi bersama Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) pada Selasa, 14 April 2026.
Dalam kunjungannya, Ibu Nitha Aziz tampak mengapresiasi tinggi inisiatif masyarakat yang mampu menghadirkan solusi konkret terhadap persoalan sampah organik.
“Ini adalah langkah nyata dari nagari yang patut diapresiasi. Selain mampu mengurangi sampah, kegiatan ini juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” ungkapnya.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Ibu Nitha Aziz juga menyerahkan bantuan berupa gerobak, cangkul, sekop, serta peralatan lainnya untuk menunjang pengelolaan sampah organik dan pembudidayaan maggot.
Menariknya, bahan baku utama dalam budidaya ini berasal dari sampah organik yang dikumpulkan langsung dari aktivitas masyarakat, mulai dari sampah rumah tangga, limbah MBG, hingga sisa-sisa dari para pedagang di wilayah Sintoga. Pola ini menjadikan program tersebut tidak hanya sebagai kegiatan budidaya, tetapi juga sistem pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat.
Ibu Nitha Aziz menegaskan bahwa gerakan seperti ini sangat relevan untuk dikembangkan secara luas.
“Saya sangat mendukung dan berharap gerakan maggot ini bisa menjadi andalan, serta diikuti oleh nagari-nagari yang ada di 17 kecamatan di Kabupaten Padang Pariaman,” tegasnya.
Program ini turut melibatkan pemuda setempat yang aktif dalam proses budidaya, mulai dari pengumpulan sampah organik, pengolahan, hingga pemanfaatan hasil maggot sebagai pakan ternak dan pupuk organik.
Ketua Karang Taruna setempat, Muharlan, menyampaikan bahwa gerakan ini lahir dari semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa dari nagari, dengan cara sederhana, kita bisa menciptakan solusi besar. Sampah tidak lagi menjadi beban, tapi bisa menjadi sumber penghasilan,” ujarnya.
Sementara itu, gerakan ini juga mendapat dorongan dari Tomy Chandra, Sekretaris Syarikat Islam Wilayah Sumatera Barat, yang ikut memotivasi lahirnya inovasi berbasis masyarakat tersebut.
Kini, Rumah BSF KPP Sintoga tidak hanya menjadi tempat budidaya, tetapi juga berkembang sebagai pusat pembelajaran bagi masyarakat luas.
Harapannya, gerakan ini dapat terus tumbuh dan menjadi inspirasi bagi nagari-nagari lain dalam mengelola sampah secara produktif dan berkelanjutan.
Dari Sintoga, sebuah pesan kuat digaungkan: perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil, dari nagari, untuk masa depan yang lebih bersih dan sejahtera. (Red)









