Aktivitas PETI di Aliran Sungai Pawan Kian Marak, Warga Sandai Resah Air Keruh dan Ancaman Bencana Mengintai

oleh -2 Dilihat
oleh
banner 500x300

KALBAR, DNC.co.id – Aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di sepanjang aliran Sungai Pawan, khususnya di wilayah Kecamatan Sandai dan Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang, semakin marak dan terkesan sulit dikendalikan. Kondisi ini terjadi meskipun aparat penegak hukum sebelumnya telah melakukan penindakan terhadap sejumlah pelaku, Kamis (16/04/2026).

Dalam operasi beberapa hari lalu, aparat disebut telah mengamankan lima orang pelaku beserta lima unit ponton atau lanting sebagai barang bukti. Namun, penindakan tersebut belum memberikan efek jera. Aktivitas tambang ilegal justru masih berlangsung secara terbuka di sejumlah titik aliran sungai.

banner 500x300

Berdasarkan hasil penelusuran awak media di lapangan setelah menerima informasi dari warga setempat berinisial AT (bukan nama sebenarnya), diketahui masih terdapat sejumlah mesin ponton yang beroperasi di beberapa lokasi, di antaranya wilayah Serinding Desa Petai Patah yang masuk area izin PT Serinding Sinar Makmur (SSM), Tanjung Lambai, Sungai Kerabay, hingga Cinta Manis.

Baca Juga  Panglima TNI: Filipina Janji Bebaskan Lima WNI yang Disandera Abu Sayyaf

“Masih ada ponton yang bekerja hampir setiap hari. Air sungai sekarang makin keruh, beda sekali dengan dulu. Kami khawatir kalau terus dibiarkan, dampaknya makin luas,” ujar AT kepada awak media.

Kondisi tersebut menimbulkan keresahan masyarakat, terutama karena warga Kecamatan Sandai masih sangat bergantung pada air Sungai Pawan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, dan keperluan rumah tangga lainnya. Perubahan kualitas air yang semakin keruh menjadi tanda nyata dampak aktivitas PETI terhadap lingkungan.

Seorang warga lainnya yang enggan disebutkan namanya juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap dampak jangka panjang aktivitas tambang ilegal tersebut.

“Kalau sungai terus dirusak seperti ini, bukan cuma air yang susah dipakai. Kami takut nanti banjir makin sering, tanah longsor juga bisa terjadi. Anak-anak kami yang akan kena dampaknya,” ujarnya.

banner 500x300

Warga menilai penanganan selama ini terkesan hanya menyasar pelaku lapangan, sementara pihak pemodal yang diduga berada di balik aktivitas tambang ilegal belum tersentuh secara maksimal. Bahkan, muncul dugaan adanya oknum tertentu yang bermain di balik aktivitas tersebut sehingga praktik PETI tetap berlangsung.

Baca Juga  Pesta Yoga Internasional Bakal Digelar di Jakarta

Selain ancaman kerusakan lingkungan seperti pendangkalan sungai akibat sedimentasi material tambang, masyarakat juga mulai mengkhawatirkan dampak kesehatan jangka panjang. Penggunaan bahan kimia berbahaya seperti merkuri (raksa) dalam proses penambangan dikhawatirkan mencemari ekosistem sungai, termasuk ikan yang dikonsumsi warga sehari-hari.

“Kalau ikan di sungai sudah tercemar, tentu berbahaya bagi kesehatan. Kami takut dampaknya nanti ke anak-anak, termasuk risiko stunting dan penyakit lainnya,” kata seorang tokoh masyarakat setempat.

Situasi ini menjadi perhatian serius masyarakat yang berharap pemerintah daerah hingga aparat penegak hukum di tingkat provinsi dan pusat segera mengambil langkah tegas dan berkelanjutan untuk menghentikan aktivitas PETI di wilayah tersebut.

Jurnalis : Heri
Editor : D. Hendriyanto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.